Bukan “GAPTEK” tapi “MALTEK”

Di tahun 2018 semua pekerjaan hampir didominasi dengan penggunaan teknologi. Bahkan dari hal yang umumnya dilakukan dengan cara konvensional sekarang dapat dilakukan lebih mudah dan praktis dengan bantuan teknologi. Hal inilah yang mendorong masyarakat untuk sesegera mungkin sadar akan pentingnya teknologi. Kekurangpahaman terhadap teknologi dapat menghambat seseorang mengikuti perkembangan zaman yang serba digital ini.

Dari berbagai kasus yang telah banyak saya temui pada dasarnya masyarakat Indonesia bukan “GAPTEK” melainkan “MALTEK”. Kenapa saya sebut demikian, “GAPTEK” merupakan istilah yang digunakan untuk seseorang dengan kemampuan pemahaman teknologi yang kurang dengan bahasa yang kasar dan tafsir yang cenderung bersifat permanen atau bawaan dari lahir. Setahu saya “GAPTEK” adalah singkatan dari Gagap Teknologi. Gagap lebih cenderung pada kelainan dari lahir dan bersifat permanen. Menurut saya¬† istilah tersebut kurang tepat, dan yang tepat adalah “MALTEK” yang merupakan singkatan dari Malas Tekonologi. Masyarakat Indonesia secara keseluruhan sebenarnya memiliki potensi yang sama dan kemampuan yang sama untuk memahami sesuatu. Akan tetapi yang menjadi pembeda adalah tekad dan kemampuan dari masing individu yang belum terbentuk. Saya sendiri sering mendengar keluhan dari lingkungan saya seperti halnya tidak mampu memperbaiki laptop ataupun yang lainya. Padahal cara-cara memperbaiki laptop sesuai dengan keluhan dapat di cari di Google. Padahal semuanya ada di Google, jadi kenapa masih membutuhkan orang lain. Ada yang berfikiran kan ada ahlinya, padahal kenyataanya seseorang yang dimintai tolong adalah orang yang memiliki latar belakang yang sama dengan yang meminta tolong. Hal ini ibaratkan sama-sama gelas yang mampu menampung air tetapi gelas satunya tidak mau menampung air dan dilimpahkan ke gelas yang lainnya. Pemikiran yang seperti inilah yang harus dihilangkan. Jika kita bisa dengan sendirinya kenapa harus merepotkan orang lain. Sekarang ini sudah sangat benyak ditemui penyelesaian masalah dari Google, Youtube dan masih banyak yang lainnya.

Dengan demikian pemikiran pemalas dan ingin enaknya saja harus dihindarkan agar mampu menciptakan lingkungan yang mandiri. Seseorang tidak akan berkembang jika harus bergantung kepada orang lain terhadap semua hal. Mencoba mandiri lebih baik daripada terus-menerus menyusahkan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *