CF 16-03-2018

Kampus diamana saya sekarang menempuh pendidikan adalah kampus yang terdiri dari 7 kampus daerah yang letaknya diseluruh pulau di Indonesia. Kampus pusat kami terletak di Jawa Barat. Sekarang ini saya menempuh pendidikan di kampus Kalimantan. Pada awalnya kampus kalimantan mengadakan kompetisis debat di lingkungan kampus untuk mempersiapkan debat di kampus regional lain nantinya. Pada ajang debat itu saya dkk mendapat juara 2 dikalahkan oleh adik tingkat saya. Entah disitu karena kami kurang beruntung atau memang kami kalah dari segala aspek, kami menerima kenyataan tersebut.

Pada tanggal 9 Maret 2018 saya mendapat Informasi diadakan kompetisi debat di kampus Sulawesi, tentu saja kami mengajukan hal ini ke pimpinan, yang pada akhirnya tidak mendapat respon sama sekali. Setelah saya mencari informasi ternyata “katanya” tidak kampus reginal yang ikut dalam kompetisi debat tersebut. Dengan adanya informasi tersebut saya santai dan tidak menindaklanjuti mengenai kompetisi tersebut karena memang izin dan biaya yang besar. Pada tanggal 15 Maret 2018 saya bersama rekan-rekan lainya kaget karena ternyata setelah diumumkan peserta debat, hanya kampus kalimantan yang tidak mengikuti debat tersebut. Bahkan lucunya kampus Papua dan Sumatera yang notabenya lebih jauh ikut serta juga. Bukan karena saya ingin mengikuti debat tersebut, tapi lebih kepada kekecewaan saya karena kami satu-satunya kampus yang tidak ikut. Padahal disitu ada rektor yang merupakan pimpinan tertinggi dari seluruh kampus, selain itu dari peserta yang ada ternya banyak juga kampus lain yang ikut.

Lucunya ada kejadian aneh yang menyinggung saya oleh orang yang tidak “mengerti”. Ketika saya berdiskusi dengan teman saya ada yang bilang.
“kenapa? soal debat?” kata dia”
“sudahlah orang kemarin saja dengan adik tingkat kalah”
“Ngapain ngirim-ngirim jauh kesana”

Dalam hati saya ” bukan masalah saya , tapi bagaimana kampus kalimantan yang katanya mengedepankan akademik ternya tidak menghadiri kompetisi debat yang dihadiri oleh pimpinan tertinggi dan narasumber internasional”. Saya tidak pernah punya pikiran bahwa “saya harus berangkat untuk debat”, bahkan ketika bukan saya yang mewakili saya SANGAT TERIMA dengan keputusan tersebut. Masalh saya adalah ketika semua kampus ikut berpartisipasi, kenapa kampus kita tidak? tentu saja hal ini menjadi pertanyaan besar. Apakah tidak ada lagi mahasiswa yang mampu di kampus kalimantan ini? Apakah kita tidak berani bersaing? Apakah anda pecundang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *